BAB I
PENDAHULUAN
A . Latar
Belakang
Negara Indonesia merupakan Negara
yang kaya akan keberagaman, keberagaman manusia, suku budaya, bahasa dan agama.
Dalam suku ada keberagaman, dalam budaya ada keberagaman, dalam bahasa ada
keberagaman, dalam agamapun ada keberagaman.
Di Indonesia ada 6 agama yang
diakui, dan dalam agama muncul isu-isu atau paham-paham seperti sekularisme,
pluralisme, liberalisme dan gender. Dan yang akan kita bahas adalah pluralisme
dan gender.
Keberagaman ini menjadi indikasi
bahwa setiap manusia mempunyai mempunyai cara hidupnya masing-masing sebagai
pilihan sadar di dalam hidupnya. Setiap manusia menempuh jalan yang mereka
yakini benar, meski berbeda dengan jalan orang lain yang juga dipahami sebagai
jalan yang benar bagi mereka. Inilah realitas keberagaman atau pluralitas
manusia dalam menempuh jalan hidup mereka di dunia.
Makalah ini mencoba mengupas secara
global dan lintas tentang pluralisme dan gender. Jika pemahaman dari para
pembaca belum jelas, para pembaca dapat mencari buku-buku referensi yang telah
kami bubuhkan dalam makalah ini atau dapat pula untuk saling bertukar pikiran.
B. Rumusan
Masalah
Sesuai latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah
sebagai berikut:
1. Sebutkan pengertian
pluralisme dan gender ?
2. Bagaimana
pularisme dalam perspektif islam?
3. Apakah yang
dimaksud dengan istilah gender?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan
rumusan masalah diatas, maka yang menjadi tujuan pembahasan dalam makalah
adalah sebagai berikut:
1. Untuk
mengetahui pengertian pularisme
2. Untuk
mengetahui pularisme dalam
perspektif islam
3. Untuk
mengetahui pengertian gender
D. Metode Penulisan
Adapun metode penulisan makalah yang
digunakan adalah dengan cara study pustaka, yaitu mempelajari buku-buku yang
kami jadikan referensi dalam pengumpulan informasi dan data yang ada kaitannya
dengan masalah yang akan kami bahas serta pencarian informasi dengan melalui
jalur internet.
E. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika
penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
B.
Rumusan Masalah
C.
Tujuan Penulisan
D.
Metode Penulisan
E.
Sistematika Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
1.
Pengertian Pularisme
2.
Pularisme Menurut Pandangan Islam
3.
Gender
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan
B.
Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB II
PEMBAHASAN
A . Pengertian
Pluralisme
Secara
sederhana pluralisme dapat diartikan sebagai paham yang mentoleransi adanya
keragaman pemikiran, peradaban, agama, dan budaya. Bukan hanya menoleransi
adanya keragaman pemahaman tersebut, tetapi bahkan mengakui kebenaran
masing-masing pemahaman, setidaknya menurut logika para pengikutnya.
Islam mentolerir tentang perbedaan agama sebagai wujud
rahmatan lil’alamin . Namun jika toleransi diartikan secara bebas , yaitu
pemaksaan dalam membenarkan agama selain Islam , itu tidak benar . Allah ta’ala
telah menyatakan dalam firman-Nya bahwa satu-satunya Agama yang diridhoi Allah
hanyalah Islam maka makna toleransi itu bukan bebas , tapi hanya sebatas
mu’amalah saja, itupun jika mereka tidak mengganggu kita . Dibalik gagasan pluralisme lahirnya gagasan mengenai pluralisme (agama)
sesungguhnya didasarkan pada sejumlah faktor .
Dua diantaranya adalah: Pertama,
adanya keyakinan masing-masing pemeluk agama bahwa konsep
ketuhanannyalah yang paling benar dan agamanyalah yang menjadi jalan
keselamatan. Masing-masing pemeluk agama
juga meyakini bahwa merekalah umat pilihan .
Menurut kaum pluralis, keyakinan
–keyakinan inilah yang sering memicu terjadinya kerenggangan , perpecahan
bahkan konflik antar pemeluk agama . Karena itu menurut mereka diperlukan
gagasan pluralisme sehingga agama tidak lagi berwajah ekslusif dan tidak memicu konflik .
Kedua, faktor kepentingan ideologis dari kapitalisme untuk melanggengkan
dominasinya di dunia . Selain isu-isu demokrasi , hak asasi manusia dan
kebebasan serta perdamaian dunia , pluralisme agama adalah sebuah gagasan yang
terus disuarakan kapitalisme global yang digalang oleh Amerika Serikat untuk
menghalang kebangkitan Islam . Karena itu jika ditinjau dari segi sejarah ,
faktor pertama bolehlah diakui sebagai alasan awal munculnya gagasan pluralisme
agama . Namun selanjutnya, faktor
dominan yang memicu maraknya isu pluralisme agama adalah niat Barat untuk makin
mengokohkan dominasi kapitalismenya,khususnya atas dunia Islam . Konflik
sebagai alasan ? memang benar dunia saat
ini sarat dengan konflik .
Namun,tidak
benar jika seluruh konflik yang terjadi saat ini dipicu oleh faktor agama .
Bahkan banyak konflik yang terjadi lebih sering berlatar belakang ideologi dan
politik.
Dalam skala
internasional , konflik Israel-Palestina lebih dari setengah abad misalnya,jelas bukan konflik antar agama
(Islam ,Yahudi, Kristen ). Sebab toh dalam rentang sejarah yang sangat panjang
selama berabad-abad ketiga pemeluk agama ini pernah hidup berdampingan secara
damai dalam naungan Khilafah Islamiyah.
C. Pluralisme Menurut Islam
Allah SWT berfirman:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا
خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ
لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ
خَبِيرٌ
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan
dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling
mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang
yang paling bertakwa di sisi Allah (QS al-Hujurat [49]: 13).
Ayat ini menerangkan bahwa Islam mengakui keberadaan dan
keragaman suku dan bangsa serta identitas-identitas agama selain Islam
(pluralitas), namun sama sekali tidak mengakui kebenaran agama-agama tersebut
(pluralisme). Allah SWT juga berfirman:
وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ مَا
لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَا لَيْسَ لَهُمْ بِهِ عِلْمٌ وَمَا
لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ
Mereka menyembah selain Allah
tanpa keterangan yang diturunkan Allah. Mereka tidak memiliki ilmu dan tidaklah
orang-orang zalim itu mempunyai pembela (QS al-Hajj:67-71).
Ayat ini menegaskan
bahwa agama-agama selain Islam itu sesungguhnya menyembah kepada selain Allah
SWT. Lalu bagaimana bisa dinyatakan, bahwa Islam mengakui ide pluralisme yang
menyatakan bahwa semua agama adalah sama-sama benarnya dan menyembah kepada
Tuhan yang sama?
Dalam ayat yang lain,
Allah SWT menegaskan:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللهِ
اْلإِسْلاَمُ
Sesungguhnya agama yang diridhai
di sisi Allah hanyalah Islam (QS Ali Imran [3]: 19).
Allah SWT pun menolak
siapa saja yang memeluk agama selain Islam (QS Ali Imran [3]: 85); menolak
klaim kebenaran semua agama selain Islam, baik Yahudi dan Nasrani, ataupun
agama-agama lainnya (QS at-Taubah [9]: 30, 31); serta memandang mereka sebagai
orang-orang kafir (QS al-Maidah [5]: 72).
Karena itu, yang
perlu dilakukan umat Islam sesungguhnya bukan menyerukan pluralisme agama apalagi
dialog antaragama untuk mencari titik temu dan kesamaan. Masalahnya, mana
mungkin Islam yang mengajarkan tauhid (QS 5: 73-77; QS 19: 88-92; QS 112: 1-4)
disamakan dengan Kristen yang mengakui Yesus sebagai anak Tuhan ataupun
disamakan dengan agama Yahudi yang mengklaim Uzair juga sebagai anak Tuhan?!
Apalagi Islam disamaratakan dengan agama-agama lain? Benar, bahwa eksistensi
agama-agama tersebut diakui, tetapi tidak berarti dianggap benar. Artinya,
mereka dibiarkan hidup dan pemeluknya bebas beribadah, makan, berpakaian, dan
menikah dengan tatacara agama mereka. Tetapi, tidak berarti diakui benar.
Karena itu, yang
wajib dilakukan umat Islam tidak lain adalah terus-menerus menyeru para pemeluk
agama lain untuk memeluk Islam dan hidup di bawah naungan Islam. Meski dengan
catatan tetap tidak boleh ada pemaksaan.
Pluralisme agama juga
mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di
surga.
D. Gender
Sebelum mengartikan kata Gender
harus dipahami perbedaannya dengan Sex kemudian dikemukaakan konsep Islam
tentang Gender .
Menteri Urusan Peranan Wanita dengan
ejaan ‘jender’ . Jender diartikan sebagai penafsiran yang bersifat mental
(interpretasi mental) dan budaya (cultural) terhadap perbedaan kelamin ,
laki-laki perempuan . Jender biasanya
dipergunakan untuk menunjukkan pembagian kerja yang tepat bagi laki-laki dan
perempuan. Mansoer Fakih menjelaskan secara detail tentang jender bahwa sifat
yang melekat pada laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan
kultural . Misal perempuan dikenal lemah dan laki-laki dikenal kuat tapi ada
juga yang sebaliknya.
Terbentuknya
Gender Differences (perbedaan gender) dikarenakan oleh beberapa hal diantaranya, dibentuk, disosialisasikan,
diperkuat, bahkan konstruksi secara sosial/kultural melalui ajaran agama
atau Negara. Perbedaan gender tersebut
ternyata mengantarkan ketidakadilan gender. Nah ketidakadilan yang
dilahirkan oleh perbedaan gender inilah sesungguhnya yang sedang digugat.
Dalam
Islam sendiri tidak pernah mentolerir adanya perbedaan/perlakuan diskriminasi
diantara umat manusia. Adapun prinsip kesetaraan tersebut adalah:
-
Perempuan dan laki-laki sama sebagai hamba Allah
-
Perempuan dan laki-laki sama sebagai Khalifah di bumi
-
Perempuan dan laki-laki sama berpotensi meraih prestasi
Tapi
mengapa muncul ketidakadilan terhadap perempuan dengan dalil agama? Hal ini disebabkan oleh beberapa hal,
diantaranya:
a. Keyakinan bahwa
perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, sehingga perempuan dianggap
sebagi mahluk kedua yang tidak mungkin ada tanpa kehadiran laki-laki.
b. Keyakinan bahwa
perempuan sebagai sumber dari terusirnya manusia (laki-laki) dari syurga, bahkan lebih jauh lagi perempuan dianggap sebagai sumber malapetaka.
Al-qur’an
sendiri tidak mengajarkan diskriminasi antara laki-laki dan perempuan sebagai
manusia, sebagaiman dalam firman Allah dalam
Q.S. An-Nisaa : 34
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ
عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا
أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ
بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ
وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلا
تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا
Artinya: “Kaum laki-laki itu
adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian
mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka
(laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita
yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya
tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu
khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat
tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka
janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha
Tinggi lagi Maha Besar.”
Jadi, persamaan ini memang ada dalam Islam, tetapi tidak sama
dengan persamaan yang dipersepsikan oleh orang-orang barat. Karena persamaan
gender dalam Islam adalah penghormatan terhadap kaum wanita yang lebih dikenal
dengan taklif syar’i dan inilah hakekat persamaan dalam Islam. Sebagaimana yang
tercantum dalam Q.S. At-Taubah :71
Artinya:
“Dan
orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah)
menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang
makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat,
dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh
Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Ayat ini menjelaskan bahwa adanya persamaan hak antara
laki-laki dan perempuan, tetapi bukan berarti persamaaan
secara mutlak. Dan tentunya harus sesuai dengan Alquran dan Hadits serta tidak
mengekor pada budaya-budaya barat yang jelas-jelas melenceng dari Alquran dan
Hadits .
BAB III
PENUTUP
- Kesimpulan
Manifestasi
ketidakadilan gender telah mengakar mulai dari keyakinan di masing-masing
orang, keluarga, hingga pada tingkat negara yang bersifat global. Manifestasi
keadilan tersebut tersosialisasi terhadap kaum laki-laki dan perempuan dan
akhirnya lambat laun baik laki-laki atau pun perempuan menjadi terbiasa dan
pada akhirnya diyakini bahwa peran gender itu seolah-olah merupakan suatu
kodrat.
Terwujudnya
kesetaraan dan keadilan gender ditandai dengan tidak adanya diskriminasi antara
perempuan dan laki-laki sehingga dengan damikian antara perempuan dan laki-laki
memiliki akses, kesempatan berpartisipasi, dan kontrol atas pembangunan serta
memperoleh manfaat yang setara dan adil dari pembangunan.
- Saran
A. Latar Belakang
Seiring perkembangan zaman, kemampuan membuat karya tulis sangatlah diperlukan mengingat karya tulis adalah salah satu literatur ilmu pengetahuan yang patut diperhitungkan. Karena dari karya tulis yang berkualitas tentunya, kita dapat mengetahui hasil pendapat orang lain ataupun esensi dari berbagai buku tentang masalah yang sedang ingin kita pelajari.Namun, tidak sedikit orang yang belum mampu membuat karya tulis dengan baik dan berkualitas sesuai dengan ketentuannya. Maka dari itu, makalah ini dibuat sebagai salah satu usaha untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan keterampilan menulis berbagai bentuk karya tulis.B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara menulis laporan hasil seminar dalam bentuk tulisan eksposisi?2. Bagaimana cara menuangkan alasan dan pendapat melalui tulisan argumentatif?3. Bagaimana cara menyusun karya ilmiah?C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka makalah ini bertujuan untuk :1. menambah pengetahuan tentang bagaimana cara menulis laporan hasil seminar dalam bentuk tulisan eksposisi,2. menambah pengetahuan tentang bagaimana cara membuat alasan yang meyakinkan serta menuangkan pendapat melalui tulisan argumentatif,3. menambah pengetahuan tentang cara menyusun karya ilmiah.
BAB II
PEMBAHASANA. Menulis Laporan Hasil Seminar Dalam Bentuk Tulisan Eksposisi
1. Pengertian LaporanLaporan merupakan bentuk komunikasi yang dapat dilakukan secara tertulis atau lisan mengenai sesuatu hal tertentu sesuai dengan tujuan penulisannya. Laporan inilah yang secara resmi dijadikan sebagai sumber informasi, alat pertanggungjawaban, dan alat pengambilan keputusan dalam kehidupan organisasi.Secara konvensional, laporan penelitian disusun dengan mengikuti pola atau sistematika sebagai berikut: pendahuluan, kajian pustaka, metode penelitian, hasil penelitian dan pembahasan, kesimpulan serta saran atau rekomendasi. Pada bagian pendahuluan laporan hendaknya dikemukakan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat/kontribusi penelitian, dan definisi operasional. Pada kajian pustaka berisi kajian teoritik, kerangka berpikir, dan hipotesis atau pertanyaan penelitian. Pada metode penelitian hendaknya dikemukakan rancangan/desain penelitian, wilayah generalisasi, subjek penelitian, populasi dan sampel, cara/prosedur/pendekatan/teknik pengumpulan data, dan analisis data. Pada bagian hasil penelitian dan pembahasan hendaknya dikemukakan deskripsi tentang lokasi penelitian dan subjek penelitian, analisis deskriptif data penelitian yang telah dikumpulkan, pelaksanaan pengujian hipotesis atau uraian yang merupakan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan penelitian (jika ada), interpretasi terhadap hasil penelitian, dan pembahasan terhadap hasil penelitian dalam hubungannya dengan teori-teori yang relevan atau hasil penelitian lain yang sejenis dan relevan. Pada kesimpulan atau penutup rekomendasi hendaknya dikemukakan kesimpulan hasil penelitian, diskusi, keterbatasan, implikasi, dan saran.2. EksposisiKata eksposisi berasal dari bahasa Latin "exponere" yang berarti: memamerkan, menjelaskan, atau menguraikan. Karangan eksposisi adalah karangan yang memaparkan atau menjelaskan secara terperinci, dengan tujuan memberikan informasi dan memperluas pengetahuan kepada pembacanya. Karangan eksposisi biasanya digunakan pada karya-karya ilmiah seperti artikel ilmiah, makalah-makalah untuk seminar, simposium, atau penataran.Untuk mendukung akurasi pemaparannya, sering pengarang eksposisi menyertakan bentuk-bentuk nonverbal seperti grafik, diagram atau bagan dalam karangannya. Pemaparan dalam eksposisi dapat berbentuk uraian proses, tahapan, cara kerja dengan pola pengembangan ilustrasi, definisi, dan klasifikasi.Karangan eksposisi juga dapat ditulis berdasarkan fakta suatu peristiwa, misalnya bencana alam, kecelakaan, atau sejenis liputan berita. Meski bentuk karangannya cenderung narasi, namun kita dapat membuatnya menjadi bentuk paparan dengan memusatkan uraian pada tahapan atau cara kerja.Tahapan menulis karangan eksposisi, yaitu:1. menentukan objek pengamatan,2. menentukan tujuan dan pola penyajian eksposisi,3. mengumpulkan data atau bahan,4. menyusun kerangka karangan, dan5. mengembangkan kerangka menjadi karangan.Pengembangan kerangka karangan berbentuk eksposisi dapat berpola penyajian berikut:1. Urutan topik yang ada: pola urutan ini berkaitan dengan penyebutan bagian-bagian suatu benda, hal, atau peristiwa tanpa memprioritaskan bagian mana yang terpenting. Semua bagian dianggap bernilai sama.2. Urutan klimaks dan antiklimaks: pola penyajian dimulai dari hal yang mudah/sederhana, menuju ke hal yang makin penting atau puncak peristiwa dan sebaliknya untuk antiklimaks.Karangan eksposisi sering dibuat berdasarkan gambar, bagan, matriks, dan sejenisnya. Penyajian bentuk-bentuk nonverbal tersebut bisa dimaksudkan sebagai objek untuk dijelaskan, tetapi juga bisa sebagai alat bantu untuk mengkonkretkan penjelasan.B. Menuangkan Alasan dan Pendapat yang Meyakinkan Melalui Tulisan Argumentatif
Tulisan opini adalah jenis tulisan yang menggunakan dasar tulisan argumentatif. Tulisan ini berupaya untuk menerangkan pendirian seseorang sebagai suatu yang benar dan lebih baik dari yang lainnya, juga sebagai upaya meyakinkan orang lain untuk menerima opininya. Fungsi tulisan argumentatif adalah untuk menunjukkan pernyataan Anda (opini, pendapat, teori, hipotesis) tentang satu fenomena itu benar atau lebih benar dari pernyataan orang lain.Untuk membuat tulisan argumentatif, yang harus dilakukan adalah membuat alasan, membuat induksi dan menarik kesimpulan. Apa yang sudah direncanakan diterapkan dalam pembahasan. Proposisi tersebut tentunya belum diketahui dan diakui sebagai benar. Tulisan ini harus harus memberi keyakinan bahwa proposisi tersebut itu benar dan diakui sebagai benar. Tulisan ini perlu dukungan fakta atau prinsip-prinsip kebenaran yang sudah diketahui, diakui atau terbukti benar. Hal ini harus dilakukan. Bila tidak tulisan ini hanya akan berisi pernyataan atau proposisi tanpa dukungan fakta, pendapat atau prinsip-prinsip kebenaran yang sudah diakui.Tulisan argumentatif harus berisikan pendapat yang bermakna. Karena tujuan penulisan ini sendiri adalah untuk meyakinkan pembaca bahwa argumentasi atau posisi penulis itu benar. Pernyataan penulis lebih akurat dan lengkap daripada argumentasi lawannya.1. Cara Membuat Tulisan Argumentasia) Mulailah dengan pernyataan yang menyatakan pendapat Anda. Termasuk di dalam pernyataan itu timeliness, signifikansi dan relevansi dengan fenomena tertentu.b) Kaji ulang secara kritis literatur tentang fenomena itu.c) Ilustrasikan bagaimana pernyataan pada tulisan tersebut "lebih baik." Penjelasan harus sederhana, mudah dicerna, lebih andal dan valid.d) Revisi dan edit. Lakukanlah untuk penalaran yang dibuat.e) Minta pendapat orang lain atas tulisan tersebut.f) Sekali lagi, tulisan argumentatif tidak hanya berisi informasi tetapi argumentasi baik yang mendukung (PROS atau FOR) atau menentang (CONS atau AGAINST).2. Ketentuan-Ketentuan Isi Argumentatif- Ketentuan Topik Argumentatifa) Topik harus cukup sempitKalimat topik tidak boleh terlalu umum, harus lebih bersifat khusus.b) Topik harus berisi argumentasi bukan hanya mengungkapkan fakta semata.c) Jangan menggunakan kalimat tanya.Pertanyaan bukanlah sebuah pernyataan argumentatif. Tetapi terlebih dahulu harus diubah ke dalam bentuk kalimat berita.d) Kalimat topik bukan hanya menyatakan fakta tetapi opini.e) Sebuah kalimat topik harus didukung dengan data (statistik, kutipan dari berbagai sumber terpercaya dan sebagainya).- Ada tiga pola yang dapat digunakan dalam tulisan argumentatif:Pola I:1) Pernyataan tesis2) Gagasan PRO 13) Gagasan PRO 24) Gagasan CON + Penolakan5) KesimpulanPola II:1) Pernyataan tesis2) Gagasan CON + Penolakan3) Gagasan PRO 14) Gagasan PRO 25) KesimpulanPola III:1) Pernyataan Tesis2) Gagasan CON 1 - - - - > Penolakan3) Gagasan CON 2 - - - - > Penolakan4) Gagasan CON 3 - - - - > Penolakan5) Kesimpulan- Ketentuan Pernyataan Tesis1. Pada kalimat tesis pernyataan tesis harus jelas, seksama dan terbatas. Letakkan pernyataan tesis pada paragraf pertama di esai.2. Ada transisi yang logis dan jelas antara bagian pendahuluan, bagian batang tubuh karangan dan kesimpulan. Transisi itu dapat berupa, kata, kalimat atau paragraf.3. Pada paragraf-paragraf di bagian batang tubuh karangan harus dimasukkan dukungan bukti dan fakta beserta penjelasannya. Dukungan bukti dan fakta itu dapat berupa data, logika, data statistik, pernyataan tokoh atau anekdot.4. Kesimpulan dapat berupa kalimat dan paragraf. Sebuah kesimpulan biasanya menyatakan kembali pernyataan tesis tetapi dengan mengulasnya dengan berbagai bukti dan fakta yang diberikan. Pola-pola di atas dapat menerapkan ketentuan umum ini.5. Gagasan pendukung haruslah dapat meyakinkan orang lain. Orang lain dapat mengubah kepercayaan mereka atau bertindak sesuai dengan gagasan kita. Oleh karena itu, gagasan pendukung kita harus berisi fakta, data statistik dan sumber pernyataan orang lain yang dapat dipastikan benar dan mendukung. Sebaliknya, pernyataann yang dikonter haruslah benar-benar salah. Anda harus menspesifikasi gagasan yang dikonter tersebut.C. Menyusun Karya Ilmiah
Karya tulis biasanya dibedakan menjadi dua bagian, yaitu karya tulis ilmiah populer dan karya tulis ilmiah formal. Karya tulis ilmiah populer adalah karya tulis yang dipersiapkan untuk publikasi dalam suatu penerbitan di surat kabar atau majalah populer. Biasanya karya tulis yang demikian mengambil tema-tema aktual, yang sedang hangat diisukan (isu-isu kontemporer), bukan isu yang sudah kadaluarsa. Oleh karena itu teknik penulisan dan bahasa yang digunakan bersifat populer, renyah dan enak dibaca, dan lebih sederhana sifatnya. Misalnya dalam surat kabar tidak digunakan teknik catatan kaki dan daftar pustaka, demikian pula dalam majalah-majalah populer pada umumnya.Karya tulis ilmiah formal adalah karya tulis yang dipersiapkan untuk kepentingan-kepentingan formal, misalnya untuk usulan penelitian (proposal) seminar, munaqasyah, jurnal dan seterusnya. Pada umumnya karya tulis yang demikian terikat oleh kaidah-kaidah atau metode penulisan dan bahasa yang ketat, dan harus mencantumkan sumber penulisan (catatan kaki dan daftar pustaka). Tema-tema yang diangkat lebih bersifat khusus dan mendalam. Termasuk karya tulis semacam ini adalah disertasi (untuk S3), tesis (untuk S2), skripsi (untuk S1) dan paper atau makalah untuk kepentingan formal.Dalam karya tulis ilmiah setidaknya ada dua jenis penulisan, yaitu jenis penulisan yang bersifat deskriptif-informatif dan penulisan yang bersifat analitis-kritis. Deskriptif-informatif artinya tulisan tersebut hanya menggambarkan dan menuturkan informasi kepada orang lain. Sedangkan analitis-kritis artinya tulisan tersebut di samping menuturkan informasi juga memberikan analisis secara kritis dan mendalam. Oleh sebab itu, jenis tulisan ini juga bisa disebut deskriptif-analitis-kritis.Sebelum memulai menulis setidaknya ada dua langkah yang mesti diperhatikan. Pertama, mencari tema dan topik. Kedua, merumuskan masalah. Ketiga, memecahkan masalah. Pada dasarnya, hal terpenting yang harus dipikirkan oleh seorang penulis karya ilmiah pada tahap persiapan ini adalah pemilihan topik. Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam penulisan karya ilmiah, yaitu :1. pemilihan Topik/ Masalah untuk karya tulis ilmiah.
Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan pada saat menentukan topik untuk karya ilmiah, yaitu :a. area topik. Area topik memuat cakupan masalah yang akan diangkat dalam penulisan karya tulis ilmiah. Topik lebih luas daripada judul, karena topik mencakup isi pokok dan area yang akan dibahas dan ditulis.b. keterbatasan.Keterbatasan yang sering ditemui dalam pemilihan topik, seringkali adalah keterbatasan yang disesuaikan dengan: minat, kemampuan dilaksanakan, kemudahan dilaksanakan, kemudahan dibuat menjadi masalah yang lebih luas, dan manfaat.2. mengidentifikasi pembaca karya tulis ilmiah. Kewajiban seorang penulis karya ilmiah adalah memuaskan kebutuhan pembacanya akan informasi, yaitu dengan cara menyampaikan pesan yang ditulisnya agar mudah dipahami oleh pembacanya. Sebelum menulis, kita harus mengidentifikasi siapa kira-kira yang akan membaca tulisan kita. Hal tersebut perlu dipertimbangkan pada saat kita menulis karya tulis ilmiah agar tulisan kita tepat sasaran.3. menentukan cakupan isi materi karya tulis ilmiah. Cakupan materi adalah jenis dan jumlah informasi yang akan disajikan di dalam tulisan.Ada beberapa tahapan-tahapan pada penulisan karya ilmiah, yaitu :a) Pemilihan Topikb) Pengumpulan InformasiPrinsip-prinsip dasar yang harus diperhatikan sehubungan dengan pengumpulan informasi adalah:- Evaluasi instrumen, untuk mendapatkan data yang lebuh akurat dan konsisten. Evaluasi instrumen dilakukan dengan uji coba pengumpulan data dengan instrumen yang telah dibuat. Hasil uji coba akan diketahui melalui pengujian validitas dan reliabilitas.- Evaluasi terhadap sumber, untuk mempertanggungjawabkan data.
Penulis harus menentukan apakah data yang diperlukan dalam menulis karya tulis ilmiah berupa data primer, sekunder atau gabungan dari keduanya.- Pembuatan catatan, untuk memudahkan pencatatan dan pencarian kembali informasi yang telah dicatat. Catatan dapat dibuat dengan penggunaan kartu informasi, pembuatan sistem penulisan untuk menghubungan kartu informasi dengan daftar pustaka, serta pemilihan bentuk kutipan.c) Survei LapanganMelakukan pengamatan atas obyek yang diteliti. Menetapkan masalah dan tujuan yang akan diteliti dan dijadikan karya ilmiah. Langkah ini merupakan titik acuan dalam proses penulisan atau penelitiand) Menyusun HipotesisMenyusun dugaan-dugaan yang menjadi penyebab dari obyek penelitian. Hipotesis ini merupakan prediksi yang ditetapkan ketika mengamati obyek penelitiane) Melaksanakan pengamatan dan pengumpulan dataSetelah melakukan percobaan atas obyek penelitian dengan metode yang direncanakan, maka selanjutnya lakukan pengamatan terhadap obyek percobaan yang dilakukan tersebut.f) Menganalsis dan menginterpretasikan dataMenganalisa dan menginterpretasikan hasil pengamatan yang sudah dilakukan. Coba untuk menginterpretasikan segala kondisi yang terjadi pada saat pengamatan. Pada langkah inilah teliti dan perkirakan apa yang terjadi dari pengamatan dan pengumpulan data.g) Merumuskan kesimpulan dan atau teoriMerumuskan kesimpulan atau teori mengenai segala hal yang terjadi selama percobaan, pengamatan, penganalisaan dan penginterpretasian data. Langkah ini mencoba untuk menarik kesimpulan dari semua yang didapatkan dari proses percobaan, pengamatan, penganalisaan, dan penginterpretasian terhadap obyek penelitian.Tahap evaluasi adalah tahap yang tidak kalah penting dalam proses penulisan sebuah karya tulis, terutama dalam karya tulis ilmiah. Tahap evaluasi ini bertujuan untuk memeriksa kembali tulisan yang telah jadi ataupun memperbaiki berbagai kesalahan dan kekurangan dalam karya tulis. Hal yang harus menjadi perhatian diantaranya: isi artikel, sistematika penyajian dan bahasa yang digunakan.
BAB III
PENUTUPA. Simpulan
Ada tiga bentuk karya tulis yang sering digunakan dalam mendukung kegiatan pembelajaran, keorganisasian, pekerjaan, dan sebagainya. Karya tulis itu berupa laporan berbentuk karangan eksposisi, tulisan argumentatif, dan karya tilis ilmiah. Karangan eksposisi adalah karangan yang memaparkan atau menjelaskan secara terperinci, dengan tujuan memberikan informasi dan memperluas pengetahuan kepada pembacanya. Tulisan argumentatif adalah tulisan untuk menerangkan pendirian seseorang sebagai suatu yang benar dan lebih baik dari yang lainnya, juga sebagai upaya meyakinkan orang lain untuk menerima opininya.Karya tulis ilmiah biasanya dibedakan menjadi dua bagian, yaitu karya tulis ilmiah populer dan karya tulis ilmiah formal. Karya tulis ilmiah populer adalah karya tulis yang dipersiapkan untuk publikasi dalam suatu penerbitan di surat kabar atau majalah populer. Sedangkan karya tulis ilmiah formal adalah karya tulis yang dipersiapkan untuk kepentingan-kepentingan formal, misalnya untuk usulan penelitian (proposal) seminar, munaqasyah, jurnal dan seterusnya.Menyusun berbagai karya tulis harus sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku dalam bahasa Indonesia. Hal ini penting dalam menghasilkan karya tulis yang berkualitas. ]Baik dalam karya tulis yang berbentuk laporan, tulisan eksposisi, maupun argumentasi, ketiganya memerlukan kecermatan dalam menentukan sebuah topik pembahasan.B. Saran
Dengan adanya makalah ini pembaca disarankan untuk lebih mengembangkan keterampilannya dalam menyusun karya tulis. Hendaknya pembaca memperhatikan setiap kekurangan dalam makalah ini dan lebih banyak mencari referensi tentang cara membuat karya tulis yang berkualitas.
Senamangge, Akbar. 2012. Argumentative. http://www.buowl.boun.edu.tr/students/types%20of%20essays/%20ESSAY.htm.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar